Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2016

Pejabat setempat ingatkan penduduk lokal untuk lari saja jika bertemu beruang (Foto: BBC)
SEBUAH 'pertemuan tak biasa' terjadi antara seekor beruang dan nelayan di kawasan Jepang tengah.
Atsushi Aoki yang berusia 63 tahun mengaku terpaksa menggunakan keahlian karate untuk menyerang beruang itu tepat di mukanya.
Pukulan karate tersebut membuat sang beruang memilih untuk melarikan lari.
Insiden itu terjadi manakala Aoki sedang mencari ikan seorang diri di aliran sungai pegunungan. Tiba-tiba dia diserang oleh beruang hitam Asia, yang berukuran setinggi hampir dua meter.
Menurut pengakuan Aoki, dia bertarung dengan beruang tersebut sampai mencederai dirinya di bagian kepala, kedua lengan, dan kaki.
Kemudian, Aoki ingat pelatihan bela diri yang pernah dijalani. Dia pun melancarkan aksi karatenya dan mencolok mata si beruang.
Beruang itu pun lari, dan Aoki mengambil ikan-ikan hasil tangkapannya sebelum pergi ke rumah sakit karena luka-luka ringan yang dia derita.
Media di Jepang merayakan keberanian Aoki yang menaklukkan beruang dengan 'tangan kosong'. Namun, tiada saksi yang mengonfirmasi keterangan Aoki
Pejabat setempat memperingatkan penduduk lokal jika mengalami situasi yang sama, maka seharusnya mereka tidak bertarung namun lari menyelamatkan diri saja.
 Shinzo Abe di KTT G20 (Foto: Reuters)
HANGZHOU – Pertemuan G20 di Hangzhou, China, sempat terganggu akibat kabar Korea Utara kembali melakukan peluncuran rudal balistik. Terkait peluncuran ini Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe meminta para anggota G20 untuk bersatu.
Para pemimpin negara anggota G20 pada Senin 5 September berkumpul untuk membicarakan perdagangan antar negara anggota, investasi, terorisme hingga krisis imigran. Namun, ketika mendapatkan kesempatan berbicara, Abe sempat memberikan komentarnya terkait peluncuran rudal balistik Korut.
Sebagaimana dikutip dari NHK, Selasa (6/9/2016) Abe mengatakan, tindakan Korut itu jelas melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan menjadi ancaman yang sangat berbahaya untuk keamanan regional.
PM Negeri Sakura ini menegaskan negara-negara lain di KTT G20 untuk menentang dengan tegas atas tindakan Korut tersebut. Ia menjelaskan peluncuran rudal itu sebagai provokasi yang tidak dapat dimaafkan dari Korut yang dilakukan bertepatan dengan KTT G20.
Selain itu Abe juga menambahkan agar para pimpinan negara lain mendukung idenya untuk menguatkan kebebasan bernavigasi dan terbang di atas lautan. Abe mengklaim hal itu sangat penting untuk perdagangan serta sebagai bentuk rasa hormat para anggota KTT G20 terhadap hukum.

Rabu, 31 Agustus 2016

Jepang persiapkan armada militer untuk hadapi ancaman dari Korut dan China (Foto: Getty)
TOKYO - Ketegangan yang terus bergejolak di Laut China Selatan (LCS) telah menyebabkan Jepang berada dalam keadaan siaga penuh. Untuk mengantisipasi ancaman dari pihak manapun, Jepang berencana membeli sejumlah armada militer canggih buatan Inggris.
Pembelian peralatan militer tersebut tidak hanya disiapkan untuk menghadapi China , tapi juga mengantisipasi tindakan provokatif dan agresif dari Korea Utara (Korut). Merespons hal ini, Kementerian Pertahanan Jepang telah memberikan suntikan dana besar-besaran untuk membeli beberapa senjata baru. Demikian sebagaimana dilansir Express, Kamis (1/9/2016).
Jepang baru-baru ini dikabarkan akan segera memboyong kapal serbu amfibi 11 AAV7 yang diproduksi perusahaan Inggris, BAE Systems. Pembelian ini juga dipicu konfrontasi yang sedang berlangsung antara Jepang dan China atas sejumlah pulau-pulau kecil, sebelah timur laut Taiwan, pulau tersebut dikenal sebagai Senkakus di Jepang.
Tidak hanya itu, Kementerian Pertahanan Jepang juga akan mendatangkan Jet F-35, Pesawat V-22 Osprey dan sejumlah helikopter Chinook. Dalam daftar persenjataan baru juga terdapat kapal selam baru, pesawat tanpa awak Global Hawk dan beberapa armada militer canggih lainnya.
Selama ini, konflik di LCS semakin memanas setelah China mengklaim sejumlah pulau dan wilayah di LCS menjadi hak milik mereka. Ini didasarkan pada klaim historis yang dilakukan China. Padahal, Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag telah memutuskan bahwa Negeri Tirai Bambu tidak memiliki hak klaim atas LCS.
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
SIGNES – Kepolisian Prancis berhasil menemukan kokain senilai EUR50 juta (setara Rp740,5 miliar) di pabrik milik minuman soda terkenal, Coca Cola. Kokain disembunyikan dalam kantong-kantong paket pengiriman konsentrat jus jeruk dari Amerika Selatan.
Polisi kini tengah menyelidiki temuan di Signes tersebut. Penemuan kokain seberat total 370 kilogram (kg) itu adalah yang terbesar yang pernah terjadi di Prancis. Karwayan pabrik Coca-Cola telah dikeluarkan dari daftar yang dicurigai polisi terkait paket pengiriman tersebut.
“Investigasi awal menunjukkan para karyawan tidak mungkin terlibat dalam pengiriman paket tersebut,” ujar Presiden Coca-Cola Prancis Jean-Denis Malgras, seperti dimuat BBC, Kamis (1/9/2016).
Pada April 2015, petugas imigrasi Prancis berhasil menangkap dua orang pria yang berusaha mengirimkan 250 kg kokain dengan yacht ke Inggris. Kokain yang berhasil disita oleh petugas imigrasi tersebut bernilai EUR47 juta (setara Rp697,5 miliar).

Sabtu, 27 Agustus 2016

Desy Ratnasari (Foto: Prabowo/Okezone)
YOGYAKARTA - Anggota DPR dari kalangan selebriti, Desy Ratnasari berpendapat bahwa kaum hawa adalah sosok yang sangat tangguh. Sebagai ibu, ucap dia, pekerjaan tiada habisnya. Selain anak, perempuan juga harus mengurus pekerjaan rumah tangga dan keluarga.
"Saya berharap dari Nasyiatul Aisyiyah ini lahir perempuan-perempuan tangguh," katanya saat menyampaikan pidato kebangsaan dalam rangkaian Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-13 di Spotorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini.
Anggota Komisi VIII DPR RI itu mengajak kader Nasyiatul Aisyah untuk selalu tanggap terhadap pentingnya penguatan pendidikan kepada anak-anak. Peran ibu dalam pendidikan anak harus dioptimalkan dengan peran ayah.
"Dalam rumah tangga, tidak cuma ibu yang berperan dalam pengajaran kepada anak-anak. Peran ayah juga penting bagi pembentukan karakter. Jadi mari kita ajak para suami kita untuk ikut dalam pendidikan anak untuk menguatkan peran orangtua," tuturnya.
Desy juga berharap Nasyiatul Aisyah dapat melahirkan kader-kader yang siap terjun di dunia politik. Sebab, saat ini keterwakilan perempuan masih kurang pada bidang tersebut, baik dari segi jumlah maupun kemampuan lainnya.
"Saya berharap tagline Muktamar kali ini tidak hanya jadi kalimat semata namun diwujudkan dengan tindakan yang nyata," sebutnya.
Dengan semangat ‘Perempuan Muda Berkemajuan’, Desy mengajak kaum perempuan untuk menunjukkan pada dunia tentang eksistensi perempuan muda, khususnya di bidang politik.
"Mari kita isi 30 persen kuota perempuan di DPR," ucap politikus PAN itu.
Dia juga megungkapkan rasa bangga dan apresiasinya kepada Muktamar Nasyiatul Aisyiyah. Sebab, kehadiran kader perempuan dari seluruh Indonesia menunjukkan Nasyiatul Aisyah telah mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan anggotanya.
"Saya rasa nuansa Bhinneka Tunggal Ika juga terasa dalam ruangan ini," tandasnya.
 Mendikbud Muhadjir Effendy. (Foto: Prabowo/Okezone)


YOGYAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menegaskan pentingnya pendidikan di lingkungan keluarga. Menurut dia, pendidikan keluarga menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul dan kompetitif.
"Program Indonesia Pintar merupakan satu cara mempercepat perluasan akses masyarakat miskin dalam menikmati pendidikan yang layak," katanya dalam Muktamar Nasiatul Aisyiyah ke-13 di Spotoriuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat 26 Agustus 2016 sore.
Akan tetapi, imbuh dia, hal tersebut sulit dicapai jika mentalitas dan karakter generasi muda saat ini rapuh. Sehingga, perlu adanya pendidikan karakter bagi setiap generasi muda.
"Pendidikan harus menggembirakan dan mencerahkan yang tidak membebani siswa. Pendidikan yang baik adalah yang mampu merangsang aktualisasi diri siswanya," tuturnya.
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu juga mengajak kader Nasyatul Aisyiyah untuk ikut mengawal upaya memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebab, kontribusi kader muda perempuan ini sangat diperlukan bangsa.
"Saya berharap Nasyiatul Aisyiyah menjadi organisasi perempuan yang ikut mendukung dan mengawal agenda perubahan di dunia pendidikan," ucapnya.
Muhadjir menjelaskan, Muktamar Nasyatul Aisyiyah ke-13 ini diharapkan dapat lebih proaktif mengambil bagian dalam peningkatan kualitas pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar.
"Dari sinilah pendidikan usia dini dan sekolah dasar karakter seorang anak dibentuk. Nilai-nilai keluhuran ditanamkan pada diri anak dari keluarga," katanya.
Saat ini, 80 persen anggota muda perempuan Nasyiatul Aisyiyah adalah para pendidik. Hal ini menjadi modal luar biasa untuk melahirkan perubahan, termasuk pada sektor pendidikan.
"Barisan kaum perempuan muda yang terkonsolidasi solid akan melahirkan perubahan, termasuk di sektor pendidikan," sebutnya.
Hal itu pula, lanjut Muhadjir, yang membuat kiprah Nasyatul Aisyiyah di dunia pendidikan sangat penting karena kaum perempuan memiliki kesempatan mengintegrasikan pola pengasuhan, pendidikan, dan pengawasan pada anak

Rabu, 24 Agustus 2016

NORCIA – Korban tewas akibat guncangan gempa yang terjadi di Italia dilaporkan terus bertambah. Informasi terbaru menyebutkan 38 orang tewas akibat gempa berkekuatan 6.2 skala richter (SR). Data itu disampaikan oleh juru bicara departemen perlindungan masyarakat sipil Italia,  Immacolata Postiglione.

Gempa yang terjadi pada pukul 03:36 waktu setempat juga membuat rumah penduduk menjadi retak dan hancur. Menurut Postiglione, proses evakuasi korban gempa menjadi lebih sulit karena lokasi gempa berada di daerah pegunungan. Demikian laporan yang dilansir dari  Reuters, Rabu (24/8/2016).

Sebelum ini, saat berbicara kepada para wartawan, Postiglione mengatakan 27 orang meninggal di Kota Accumoli dan Amatrice. Sementara 10 orang lainnya di daerah Arquata. Kemudian pada konferensi pers baru-baru ini, dia menaikkan jumlah korban hingga mencapai 38 orang, dengan tanpa memberikan rincian lebih lanjut. 

Selasa, 23 Agustus 2016


ANKARA -  Saat ini ada 6.000 mata-mata Turki di Jerman. Mereka mengawasi gerak-gerik setiap warga Turki di Negeri Panser tersebut. Meski demikian, pemerintah Jerman tetap ketar-ketir.
Hal ini diungkap seorang politisi Jerman yang enggan disebutkan namanya.

Ia menyebutkan, intelijen Turki yang dikenal sebagai MIT memiliki lebih dari 800 agen yang menjalankan 6.000 mata-mata di Jerman. Menurut politisi tersebut, seperti diwartakan surat kabar Jerman, Die Welt,satu intel akan mengawasi 500 warga Turki di Jerman.  

Bahkan, jumlah mata-mata Turki ini disebut melebihi agen Stasi, yaitu polisi rahasia yang sangat legendaris di Jerman Timur. Kepala Kebijakan Perdamaian Institut Riset Jerman, Erich Schnidt-Eenboom mengaku khawatir dengan keadaan ini.

"Ini bukan lagi tentang pengumpulan informasi intelijen, tetapi lebih pada penindasan yang dilakukan oleh badan intelijen (MIT). Bahkan, Stasi saja tidak memiliki agen sebanyak MIT,” ujar Eenboom, sebagaimana dilansir Daily Caller, Selasa (23/8/2016).   

Penyebaran agen MIT di Jerman dimaksudkan untuk menekan warga Turki yang memiliki informasi atau koneksi penting. Saat ini diperkirakan terdapat sekira tiga juta warga Turki menetap di Jerman.
Anggota Parlemen Green Party (MP), Hans-Christian Strobele bahkan menyebut jumlah agen mata-mata MIT di Jerman sungguh tidak dapat dipercaya. Strobele menyebut agen rahasia Turki ini benar-benar tidak dapat dideteksi. Terlebih lagi, mereka tidak menerima uang dari Pemerintah Turki atas pekerjaannya.

“Saya ingin mendapatkan jawaban dari pemerintah Jerman. Jika MIT benar-benar aktif di Jerman dengan agenda sendiri, menjalankan 6.000 informan dan menempatkan tekanan pada orang-orang Turki, maka ini adalah tindakan melawan hukum," pungkas Strobele.

Jumat, 19 Agustus 2016

BURSA – Dua mahasiswi Indonesia yang kini menjadi tahanan politik di Turki, sebelumnya tidak berada dalam daftar penangkapan. Namun saat petugas keamanan menggrebek Yayasan Gulen di Bursa pada Kamis 11 Agustus lalu, kedua WNI berinisial DP asal Demak dan YU asal Aceh berada di lokasi kejadian.

Kepada aparat, keduanya mengaku memang tinggal di rumah yang dikelola yayasan tersebut selama ini. Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Lalu Muhammad Iqbal menjelaskan, sejak awal penangkapan, KBRI Ankara sudah memberikan pendampingan.

Tim pengacara juga sudah didatangkan untuk membantu proses hukum mereka. Namun, hingga saat ini belum diperoleh pemberitahuan resmi mengenai tuduhan yang dijatuhkan kepada kedua mahasiswi tersebut.

“Pada tanggal 12 Agustus 2016, staf KBRI Ankara telah mendatangi kepolisian Bursa untuk meminta akses kekonsuleran. Pada tanggal 15 Agustus 2016, KBRI menyampaikan nota kepada Kemlu Turki yang meminta klarifikasi dasar penangkapan tersebut,” papar Iqbal dalam siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (19/8/2016).
'
Selanjutnya, pada Selasa 16 Agustus, KBRI Ankara mendatangai Pengadilan Bursa untuk bertemu dengan Jaksa Penuntut. Langkah ini menurut Iqbal, diambil staf KBRI guna mengantisipasi kalau-kalau nantinya kasus mereka masuk ke pengadilan.

“Intinya, KBRI sudah memastikan bahwa kedua mahasiswi akan didampingi pengacara. Segera setelah mengetahui ada lagi penangkapan terhadap WNI, KBRI setempat juga langsung menghubungi keluarga kedua mahasiswa untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi,” lanjutnya.

Dengan ditangkapnya DP dan YU, berarti sudah ada tiga mahasiswa WNI yang dijebloskan ke penjara tahanan politik Turki. Mereka ditahan lantaran ada kecurigaan bahwa ketiganya adalah pengikut Gerakan Hizmet pimpinan Fethullah Gulen. Sebelumnya, seorang mahasiswa bernama Handika Lintang Saputra telah lebih dulu ditangkap aparat Turki karena alasan yang sama.
MOSKOW – Kantor polisi lalu lintas (polantas) di timur laut Moskow, Rusia, diserang militan ISIS pada Rabu 17 Agustus 2016 waktu setempat. Para pelaku mulanya diberhentikan petugas di Jalan Schyolkovskoye yang dekat dengan kantor polantas. Saat hendak diberi peringatan, dua orang keluar dari dalam mobil lalu menyerang para petugas dengan senapan api dan kapak.

Kedua pelaku akhirnya berhasil diamankan setelah timah panas menembus tubuh mereka. Seorang di antaranya tewas seketika, kemudian satu pelaku lainnya menyusul kemudian.
 
Seperti diwartakan Washington Post, Jumat (19/8/2016), insiden ini menimpa dua polantas Moskow. Mereka terluka, dan seorang di antaranya membutuhkan perawatan intensif.

Kasus ini masih dalam penyelidikan polisi. Meski begitu, pada Kamis 18 Agustus, media Aamaq yang merupakan corong ISIS mengklaim kedua pelaku adalah militan dan simpatisan kelompok teroris tersebut.

Jika benar ini merupakan serangan dari ISIS, berarti untuk pertama kalinya kelompok teroris itu melancarkan pembalasan ke negara pecahan Uni Soviet tersebut.

Sebagai buktinya, Aamaq mengunggah video kedua pemuda yang dimaksud sedang mengucapkan sumpah setia kepada pimpinan ISIS yakni Abu Bakar al Baghdadi. Dalam rekaman itu, keduanya berbicara patah-patah dalam aksen Rusia dan berjanji akan menjalankan misi pembalasan dendam atas terbunuhnya saudara-saudara mereka di Suriah dan Irak akibat gempuran serangan udara Moskow selama ini.

Petugas sejauh ini menolak mengungkap identitas kedua pelaku. Namun dibeberkan sedikit bahwa kedua pelaku berasal dari Chechnya, negara bagian di Rusia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam.

Kedua pemuda tersebut meninggalkan Chechnya pada Senin 15 Agustus. Kepada keluarga, mereka pamit hendak berangkat kerja. Polisi meyakinkan keduanya belum pernah terlibat kasus kriminal sebelum ini.

Kamis, 18 Agustus 2016

Setelah tiga bulan mempelajari bahasa, seni, budaya, serta sejumlah isu di Indonesia, 60 pemuda-pemudi dari 41 negara akan unjuk kebolehan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada hari ini, Kamis (18/8/2016). Acara penutupan program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) ini akan dibuka oleh Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi.
Mengangkat tema ‘Thousand Islands Made in Heaven’, pentas seni Indonesia Channels 2016 akan digelar dari pukul 18.00 sampai 21.00 WIB. Acara ini dibuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apa pun.
Para pemuda yang tampil merupakan peraih BSBI 2016 yang sudah dididik di Indonesia sejak 13 Mei. Mereka antara lain datang dari Azerbaijan, Brunei Darussalam, Kamboja, Kanada, China, Republik Ceko, Prancis, Fiji, Jerman, Yunani, Hongaria, India, Jepang, Kazakhstan, Kiribati, Laos, Malaysia, Moldova, Myanmar, Nauru, Belanda, Kaledonia Baru, Selandia Baru, Papua Nugini, Filipina, Polandia, Rusia, Rumania, Kepulauan Solomon, Slovakia, Slovenia, Serbia, Spanyol, Korea Selatan, Suriname, Thailand, Timor-Leste, Tuvalu, Vanuatu, Vietnam, dan empat peserta dari Indonesia.
Program BSBI dibagi menjadi dua, yakni reguler dan khusus. Program BSBI reguler ditujukan untuk memperkenalkan aspek seni dan budaya serta kearifan lokal bangsa Indonesia. Sekira 48 pemuda ikut dalam program reguler. Tempat pembinaannya antara lain di Sanggar Semarandana di Bali, Studio Tydif di Surabaya, Rumah Budaya Rumata di Makassar, dan yang paling baru adalah Sanggar Syofyani di Padang.
Sementara itu, program BSBI kekhususan diikuti oleh 12 peserta dari 12 negara di kawasan Pasifik, ASEAN, Amerika-Eropa, dan Asia Timur. Mereka yang terdaftar dalam program ini akan lebih difokuskan untuk mempelajari Indonesia dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan perannya di kawasan. Karena sifatnya melalui pendekatan studi akademik, para peserta pun dibina di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran di Yogyakarta. Meski begitu, mereka tetap akan diperkenalkan dengan seni musik, tari tradisional, dan bahasa Indonesia.
Acara ini merupakan program tahunan Kemlu RI sejak 2003. Selain untuk mempromosikan seni dan budaya Indonesia, acara ini juga bertujuan untuk memperbanyak jumlah sahabat muda RI di luar negeri.
Panitia penyelenggara menargetkan Indonesia Channel tahun ini akan dihadiri 1.200 pengunjung. Dengan tamu undangan meliputi kalangan pejabat pemerintah, korps diplomatik, tokoh masyarakat, komunitas seni, pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat umum.
JAKARTA - Semarak 17 Agustus masih dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Memasuki usia ke-71, tantangan yang akan dihadapi bangsa pun akan semakin besar, termasuk di bidang pendidikan.
Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan andal. Sayangnya, hingga saat ini masalah pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah. Sistem pendidikan di sekolah pun masih dinilai belum merdeka.
"Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah membangun kemandirian. Kemandirian itu sangat luas. Kemudian Paulo Freire mengungkapkan pendidikan adalah memerdekakan seseorang. Tan Malaka berpendapat bahwa pendidikan mempertajam pikiran dan memperhalus perasaan. Sayangnya pendidikan yang seperti pendapat ahli tersebut tidak ditemukan di 71 tahun Indonesia merdeka," ujar Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, usai diskusi Redbons bertajuk 'Kontroversi Full Day School' di Kantor Redaksi Okezone, belum lama ini.
Sebagai seorang guru, Retno mengungkapkan, selama ini siswa tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah. Artinya, sistem pendidikan yang ada saat ini belum memerdekakan siswa.
"Contoh, dalam menyusun tata tertib saja tidak partisipatif. Setuju atau tidak, siswa diminta tanda tangan. Siswanya juga nurut disuruh tanda tangan. Ini semacam sudah budaya," paparnya.
Selain itu, guru dinilai juga masih belum bisa menempatkan diri mereka untuk berada di relasi yang sama dengan siswa. Akibatnya, ada raja kecil di kelas, yakni guru lebih tinggi posisinya dibandingkan siswa.
"Di sini kemudian terjadi penindasan, anak diancamnya dengan nilai. Padahal, sebenarnya guru dan siswa itu relasinya seimbang, yang membedakan adalah fungsi," tuturnya.
Retno juga menyatakan, anak-anak di sekolah masih belum punya keberanian untuk mengeluarkan pendapat. Bahkan, ketika mengetahui sekolahnya tidak transparan mereka tak mau melapor lantaran takut dikeluarkan.
"Untuk mengubah itu semua bisa dimulai dengan guru. Mindset guru harus diubah bahwa sekolah itu partisipatif, demokratis, dan menghargai perbedaan. Sekolah juga harus aman dan nyaman bagi siswa. Jika sudah terpenuhi itu semua, maka terciptalah pendidikan yang merdeka," tutupnya.
JAKARTA – Meski masa orientasi siswa tahun ini sudah ditiadakan, kekerasan dalam pendidikan masih ditemui di lingkungan sekolah. Tak hanya siswa, belakangan guru juga menjadi korban kekerasan dari orangtua peserta didik yang tidak terima anaknya dihukum.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menjelaskan, pendidikan harus bebas dari kekerasan meskipun dalam rangka mendisiplinkan anak. Guna mencegah hal tersebut, guru perlu membuat kesepakatan dengan siswanya di awal pertemuan.
"Saya tahu guru juga manusia yang ada batas kesabaran terhadap anak. Tetapi semua itu bisa dikomunikasikan, misalnya dengan membuat kesepakatan sebelumnya," ujarnya dalam jumpa pers Masyarakat Peduli Pendidikan di Kantor LBH Jakarta, Kamis (18/8/2016).
Selain guru, kepala sekolah juga harus tanggap jika terjadi kasus kekerasan di lingkungannya. Jika tidak, yang terjadi bukan penyelesaian masalah melainkan masalah baru, seperti orangtua yang memukul guru setelah anaknya mengadu. "Berarti di sini kepala sekolah juga gagap dalam menyelesaikan kasus kekerasan," sebutnya.
Seorang guru relawan di wilayah pelosok, Fidella Anandhita, menceritakan pernah mengajak siswanya secara partisipatif untuk menegakkan kedisiplinan. Baginya jika anak melanggar aturan bukan berarti diberi hukuman fisik, tetapi membiarkan mereka menerima konsekuensinya.
"Ada kesepakatam dulu. Contohnya, ketika mereka tidak bawa alat gambar, mereka tahu kalau konsekuensinya tidak bisa menggambar. Teman-temannya juga belum tentu mau meminjamkan. Karena sudah ada kesepatakan dan dia tahu konsekuensinya, maka anak tersebut harus cari akal supaya bisa menggambar," paparnya.
Sementara pakar sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Kamanto Sunarto, menambahkan sudah menjadi tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mensosialisasikan bahwa kekerasan dalam pendidikan tidak diperkenankan. Apalagi saat ini sudah ada Undang-Undang Perlindungan Anak.
"Bukan berarti malah menyatakan bahwa kekerasan dibolehkan dalam batasan tertentu. Pernyataan Mendikbud itu sangat berpengaruh, dan Kemdikbud bertugas menjalani undang-undang tanpa kompromi. Daripada disalahartikan, bisa jadi ada guru yang melakukan kekerasan karena merasa dilindungi oleh perkataan menteri," tandasnya.

Rabu, 17 Agustus 2016

JAKARTA - Istri Kapolri yang merupakan Ketua Umum Bhayangkari, Tri Tito Karnavian mengibarkan bendera merah putih di Laut Saunek Raja Ampat, Papua Barat dalam rangka perayaan Kemerdekaan RI ke-71.
"Upacara pengibaran bendera di bawah laut dilaksanakan sebagai rasa cinta Bhayangkari kepada Indonesia yang kaya dengan keindahan alam di bawah laut Raja Ampat," kata Tri Tito Karnavian melalui keterangan tertulisnya di Jakarta Rabu (17/8/2016).
Selain istri Kapolri, acara perayaan Kemerdekaan RI tersebut dihadiri pengurus Bhayangkari lainnya antara lain istri Kapolda Gorontalo Dona Hengky, istri Kapolda Papua Barat Lily Royke Lumowa, istri Kapolda Papua Roma Waterpaw, istri kapolda Sulawesi Tengah Luly Sufahriadi dan istri Wakapolda Bangka Belitung Shinta Istiyono.
Tri menuturkan Indonesia memiliki berbagai keindahan sumber daya alam seperti Laut Raja Ampat yang terkenal di dunia dan menarik turis mancanegara.
Para pengurus Bhayangkari juga menggelar bakti sosial dengan menyumbangkan alat tulis dan buku bacaan untuk murid sekolah dasar (SD) di Kampung Yenbuba dan Arborek Raja Ampat.
Sebelum mengibarkan bendera di bawah laut, para peserta berlatih menyelam di setiap wilayah selama beberapa hari.
Bahkan para anggota Bhayangkari juga memeriksa kesehatan dan menjaga stamina dengan berolah raga, serta mengikuti aturan dari instruktur.
Tri berharap penyelenggaraan upacara kemerdekaan di bawah laut dapat menarik minat masyarakat khususnya kaum perempuan mengikuti olahraga selam.
Di samping itu kegiatan tersebut membantu promosi wisata laut dan budaya di Indonesia sehingga meningkatkan nasionalisme sebagai Warga Negara Indonesia, ujar istri jenderal bintang empat itu.
MAKKAH - Jarak ribuan kilometer dari Tanah Air tak membuat para petugas haji lupa akan jati dirinya sebagai anak bangsa. Pagi ini di Tanah Suci, mereka menggelar upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-71 tahun.
Tepat pukul 08.00 Waktu Arab Saudi (WAS) seratusan lebih petugas haji lengkap dengan seragamnya berbaris rapi mengikuti gelaran upacara bendera.
Bertindak selaku inspektur upacara Kadaker Makkah Arsyad Hidayat, kemudian komandan upacara Mayor Jayadi, dan perwira upacara Letkol Abu Dzarin.
 
Setelah inspektur upacara memasuki lapangan, komandan upacara pun melapor. Tak berselang lama, pasukan pengibar bendera yang terdiri dari Suparno, Salman, Sijianto maju mendekat ke arah tiang bendera untuk mengibarkan sang saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya.
Usai Merah Putih berkibar sempurna, inspektur upacara membacakan teks proklamasi dilanjutkan dengan pemberian amanat upacara.
Dalam amanatnya, inspektur upacara, mengingatkan bahwa kemerdekaan berhasil direbut berkat jasa para pahlawan. Di antara mereka adalah para hujjat, yang sekembalinya dari Tanah Suci menggelorakan semangat kemerdekaan.
 
Dia berharap spirit kemerdekaan senantiasa terpatri dalam diri para petugas haji, sehingga mampu memberikan layanan terbaik bagi para jamaah.
"Semoga semangat kerjasama bisa tercipta dalam memberikan pelayanan kepada jamaah," ujarnya di halaman kantor Kadaker Makkah, Jalan King Fahad, Syisyah, Makkah, Rabu (17/8/2016).
Upacara pun dilanjutkan dengan pembacaan UUD 1945 dan ditutup dengan doa yang dibacakan Prof Aswadi Syuhadak Nuruddin.
"Ya Allah ya Tuhan kami, kami seluruh bangsa Indonesia bersimpuh mensyukuri nikmat-MU, Engkau yg telah bebaskan bangsa kami dari penjajahan, perkenankankah kami peringati detik-detik kemerdekaan, untuk syukuri nikmat agung-MU, nikmat kemerdekaan. Jadikanlah detik-detik proklamasi sebagai momentum merekatkan persatuan, jauhkan kami dari perselisihan, dan permusuhan. Kuatkanlah ikatan kami agar saling menjaga kerukunan dan saling sokong kemajuan. Ya Allah Tuhan yang maha bijaksana, yang telak menganugerahi air dan alam yang kaya raya, ampunilah dosa-dosa ibu bapak kami, para guru, dan para syuhada. Muliakanlah mereka di sisi-MU."

Categories